LAPORAN
PRAKTEK
EKOLOGI
LAUT TRAOPIS
“KARANG
SERTA ORGANISME YANG BERASOSIASI”
OLEH
IRMAN RUMENGAN
200830019
MSP
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTASPETERNAKAN
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2010
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha esa
sebab Berkat serta Karunia yang telah diberikannya sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan praktek lapangan mata kuliah ekologi laut tropis yang
dilaksanakan di perairan pantai rendani, manokwari dengan baik. Segala ucapan
terima kasih saya berikan kepada seluruh pihak yang telah membantu saya sehingga dapat menyelesaikan laporan
ini, seperti halnya dengan yang lainnya, saya memiliki banyak kesalahan yang
perlu saya perbaiki, namun memerlukan waktu sehingga saya dapat memperbaiki
kesalahan / kekuarangan itu, jadi jika ada salah kata, penggunaan kata / bahasa
dalam laporan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya serta terima kasih.
Penulis
DAFTAR
PUSTAKA
|
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………….
|
i
|
|
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………………………………………………
|
ii
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
|
|
|
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………………….
|
1
|
|
1.2 Maksud dan Tujuan………………………………………………………………………………………………………….
|
2
|
|
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
2.1 Ekosistem Terumbu Karang……………………………………………………………………………………………….
|
3
|
|
2.2 Interaksi Ekosistem Terumbu Karang
Dengan Ekosistem Sekitarnya………………………………….
|
4
|
|
BAB III
METODE PRAKTEK
|
|
|
3.1 waktu dan
Tempat…………………………………………………………………………………………………………….
|
8
|
|
3.2 alat dan
Bahan………………………………………………………………………………………………………………….
|
8
|
|
3.3 Prosedur kerja…………………………………………………………………………………………………………………..
|
9
|
|
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
4.1
Hasil………………………………………………………………………………………………………………………………….
|
10
|
|
4.2
Pembahasan……………………………………………………………………………………………………………………
|
26
|
|
BAB V
PENUTUP
|
|
|
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………………….
|
27
|
|
5.2
Saran…………………………………………………………………………………………………………………………………
|
27
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep
ekosistem merupakan suatu yang luas, karena di dalamnya terjadi hubungan timbal
balik dan saling ketergantungan antara komponen-komponen penyusunnya, yang
membentuk hubungan fungsional dan tidak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah
ekosistem terjadi transfer energi antara komponennya yang bersumber dari sinar
matahari melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau
berklorofil. Makhluk hidup lain yang tidak memiliki kemampuan berfotosintesis,
menggunakan energi matahari ini dengan cara mengkonsumsi makhluk fotosintesis
tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya sehingga terbentuk suatu rantai makanan
(Nontji, 1987).
Terumbu
karang merupakan ekosistem laut yang paling produktiv dan paling tinggi
keanekaragaman hayatinya. Produktivitas yang tinggi tersebut memungkinkan
terumbu karang menjadi tempat pemijahan, pengasuhan, dan mencari makan dari
kebanyakan ikan. Oleh karena itu, secara otomatis produksi ikan di daerah
terumbu karang sangat tinggi.
Kerangka
hewan karang berfunsi sebagai tempat berlindung atau tempat menempelnya biota
laut lainnya. Sejumlah ikan pelagis bergantung pada terumbu karang padfa masa
larvanya. Terumbu karang juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut.
Selain itu terumbu karang juga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari
erosi. Dari sisi sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang
produktif, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir,
dan devisa negara yang berasal dari perikanan dan pariwisata.
Indonesia
Memiliki areal Terumbu Karang yang luas, diperkirakan sekitar 14 % dari luasan terumbu
karang di dunia atau ada juga yang memperkirakan seluas 51 % dari terumbu
karang yang ada di Asia Tenggara. Ada beberapa penapsiran yang berbeda- beda
mengenai luasan terumbu karang di Indonesia, berdasarkan criteria dan asumsi
penapsiran masing-masing menurut kemampuan fungsi, ruang dan waktu
perhitungannya. Misal Tomascik et al. (1997) menaksir secara kasar luasan
terumbu karang yang ada di Indonesia sekitar 85.000 km2. Cesar (1996)
menggunakan angka total luasan terumbu karang 75.000 km2 untuk penilaian
ekonomi turumbu karang di Indonesia. Laurette et al. (2002) mengestimasi luasan
terumbu karang Indonesia sekitar 50.875 km2 tidak termasuk terumbu karang yang
berada di daerah perairan laut yang dalam dan daerah yang jauh terpencil. Hasil
penelitian LIPI-LAPAN melaporkan total luasan terumbu karang Indonesia 20.731
km2 tidak termasuk yang berada di daerah perairan yang kedalamannya lebih 30 m
dan paparan tebing terumbu yang sangat curam tidak terdeteksi oleh sensor
satelit yang dipergunakan.
Ekosistem terumbu
karang memiliki berbagai jenis biota-biota / organism yang berasosiasi pada
ekosistem ini, dengan alas an inilah
perlu diadakannya penelitian serta pengamatan mengenai karang dan
organism yang berasosiasi.
Perairan pantai rendani
merupakan salah satu kawasan pantai yang memiliki berbagai jenis terumbu karang
dii bagian daerah papua, khususnya di perairan manokwari. Denag informasi
inilah kita dapat mengetahui alas an dilakukannya praktek ekologi laut tropis
mengenai terumbu karang sertaorganisme yang berasosiasi di ekosistem tersebut.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun
maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan praktek ekologi laut tropis mengenai
karang yang ada di perairan pantai rendani yaitu sebagai berikut :
1.
Melihat keanekaragam jenis karang serta
biota/ organism yang ada pada perairan pantai rendani.
2.
Mengenal lebih dalam lagi mengenai
ekosistem terumbu karang
3.
Sebagai syarat pemenuhan nilai praktek
lapangan mata kuliah ekologi laut tropis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Ekosistem Terumbu Karang
Wilayah ekosistem terumbu karang
mencakup dataran terumbu (reef bed), lereng terumbu (fringing reef), goba
(laguna yang terdapat didaerah terumbu karang), serta gosong karang (Tomascik et
al., 1997) . Ekosistem terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang
agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan maksimumnya, terumbu karang memerlukan
perairan yang jernih, dengan suhu yang hangat, gerakan gelombang yang besar,
serta sirkulasi yang lancar dan terhindar dari proses sedimentasi. Terumbu
karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan paling tinggi keaneka
ragaman hayatinya. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama Ekspedisi Snelius
II (1984), di perairan Indonesia terdapat sekitar 350 spesies karang keras yang
termasuk ke dalam 75 genera. Kerangka hewan karang berfungsi sebagai tempat
berlindung atau tempat menempelnya biota laut lainnya. Sejumlah ikan pelagis
bergantung pada keberadan terumbu karang pada masa larvanya. Terumbu karang
juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut. Selain itu, terumbu karang
dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi. Dari sisi sosial ekonomi,
terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif, sehingga dapat
meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa negara yang
berasal dari perikanan dan pariwisata(Tomascik et al., 1997) .
Karang memiliki
tentakel yang mengelilingi mulut dan dalam tentakel tedapat sel penyengat
(nematokis) yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya, dengan tentakel
tersebut individu karang dinamakan polip karang. Warna tentakel karang keras
secara umum tidak berwarna atau bening seperti ubur-ubur, namun ada pula
beberapa coklat muda, polip karang keras umumnya hidup berkoloni. Dan mereka
menyatukan rangka kapur satu dengan yang lainnya, sehingga dari luar mereka terlihat
seperti batu kapur. Kelompok karang lainya yang terdapat di terumbu karang
adalah kelompok karang lunak, kelompok anemon, dan kelompok kipas laut. Dengan
adanya kelompok-kelompok karang maka terbentuklah suatu hamparan terumbu karang
di mana di dalamnya tedapat beberapa tumbuhan dan berbagai hewan laut lainya
(Admin, 2008).
Polip karang
bersimbiosis dengan alga bersel tunggal (monuceluler), yang terdapat dalam
jaringan endoderm karang. Alga ini termasuk dalam dinoflagellata marga
symbiodinium yang mempumyai klorofil untuk proses potosintesis. Alga ini dapat
disebut sebagai zooxantellae (Admin, 2008).
Zoxantellae
mendapatkan keuntungan karena ia mendapat tempat tinggal yang aman di dalam
tubuh polip karang keras. Sedangkan polip karang keras mendapatkan keuntungan
karena mendapatkan makanan dari hasil potosintesis alga yaitu oksigen dan
energi. Hasil metabolisme makanan dari karang diambil zoxantellae untuk
proses potosintesis dengan bantuan sinar matahari, kemudian hasilnya
dimanfaatkan polip karang. Dengan demikian keduanya saling ketergantungan dan
tidak dapat bertahan hidup tanpa ada salah satunya. Zoxantellae adalah
salah satu penyusun karang yang paling penting. Tanpa peran zooxantella
terumbu karang tidak akan terbentuk karena polip karang keras tidak akan dapat
hidup tanpa zoxantellae (Admin, 2008).
Pembuatan jetty,
pembukaan lahan yang menyebabkan peningkatan sedimentasi, penangkapan ikan
dengan menggunakan bahan peledak dan racun, pariwisata, dan transporatsi laut
yang serampangan merupakan ancaman terbesar bagi kondisi terumbu karang
Indonesia. Ancaman ini telah menunjukan gejala yang mengkhawatirkan sehingga
kondisi terumbu karang yang masih baik hanya tinggal 7% saja(Admin, 2008).
2.2
Interaksi Ekosistem Terumbu Karang Dengan Ekosistem Sekitarnya
Terumbu karang, padang
lamun, dan hutan mangrove berinteraksi secara fisik melalui beberapa mekanisme,
yaitu reduksi energi gelombang, reduksi sedimen, dan pengaturan pasokan air
baik air laut maupun air tawar dari sungai. Komunitas lamun dan mangrove
sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur terumbu
karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan
gelombang. Di zona reef front, terjadi produksi pecahan fragmen kapur
akibat hempasan gelombang dan terpaan arus yang terus-menerus. Fragmen-fragmen
kapur ini akan diproses oleh beberapa jenis ikan, bulu babi, dan sponge untuk
menghasilkan kerikil, pasir, dan lumpur. Selanjutnya kerikil, pasir,
dan lumpur akan diteruskan ke arah pantai oleh aksi gelombang dan arus yang
telah dilemahkan, sehingga membentuk akumulasi sedimen yang menjadi substrat
utama di goba serta diperlukan di ekosistem padang lamun dan hutan mangrove.
Padang
lamun berperan ganda dalam mempengaruhi kedua komunitas di sekitarnya, yaitu
sebagai:
(1) pemerangkap dan penstabil sedimen, serta
(2) pemroduksi sedimen.
Fungsi pertama sangat diperlukan oleh terumbu karang karena menghindari proses
sedimentasi yang bisa menutup permukaan hewan karang dan mengahalangi proses
fotosintesis zooxanthellae di dalamnya. Fungsi yang kedua dilakukan oleh alga
berkapur, epifit, dan infauna, yang hasilnya diperlukan oleh komunitas lamun
dan mangrove.
Hutan mangrove juga berperan serupa dalam hal
pemerangkap dan penyaring sedimen dan bahan pencemar, sehingga sedimentasi dan
pencemaran di perairan pesisir jauh berkurang. Mangrove juga berperan
dalam mengatur pasokan air tawar ke sistem perairan pesisir.
Berbagai jenis makhluk hidup yang
ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara
langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan. Sistem
kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat
interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.
Secara umum interaksi yang terjadi
di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana,
hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan
interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies
dan tingkatan trofik. Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi yang
bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator,
grazing, komensalisme dan mutualisme, beserta contohnya di ekosistem terumbu
karang.
·
Padang lamun sering dijumpai berdampingan atau
tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan, terdapat
interkoneksi antarketiganya. Berikut bagan yang menggambarkan interaksinya :
·
Gambar 1.
Bentuk interaksi antara tiga ekosistem bahari ( terumbu karang, lamun dan
mangrove) (hutomo dan Azkab,1987)
Ekosistem mangrove, terumbu karang,
dan lamun mempunyai keterkaitan ekologis (hubungan fungsional), baik dalam
nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi satwa, dan
dampak kegitan manusia. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem tersebut
terganggu, maka ekosistem yang lain juga ikut terganggu. Yang jelas interaksi
yang harmonis antara ketiga ekosistem ini harus dipertahankan agar tercipta
sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan.
BAB III
METODE
PRAKTEK
3.1 waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan
praktek ekologi laut tropis yaitu bertempat di perairan pantai rendani pada
tanggal 4 Desember 2010, penentuan tempat pengamatan di bagi menjadi 3 tempat
dan kelomppok dibagi menjadi 3 kelompok, ketiga tempat tersebut adalah bagian
yang terdapat lamun, bagian tanjung dan bagian yang sepenuhnya adalah karang.
3.2 alat dan bahan
adapun alat
dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalh sebagai berikut :
a) Alat
·
Masker dan snorkel =
melihat dalam perairan
·
Pegaris besi =
alat pengukuran
·
Kamera =
sebagai Dokumentasi
·
Kamera bawah laut ( underwater) = sebagai dokumentasi bawah laut
·
Alat tulis menulis =
menulis data
·
Termometer =
mengukur suhu perairan
·
DO Meter =
mengukur Oksigen terlarut
·
GPS =
Melihat posisi pengambilan data
·
Refracto
meter =
Mengukur salinitas




b)
Bahan
Terumbu karang dan organisme
ekosistem terumbu karang.
3.3 Prosedur kerja
Adapun
prosedur kerja pada praktek ekologi laut tropisini adalah sebagai berikut :
·
Menyiapkan alat yang akan digunakan
dalam untuk melihat karang dan organisme
yang berasosiasi di terumbu karang serta menentukan tempat pengambilan
data/ sampel.
·
melihat secara langsung biota-bioata
yang berasosiasi pada ekosistem terumbu karang serta melakukan pengoleksian
bebas oraganisme yang dapat di dapatkan/ diambil dengan menggunakan peralatan
yang sederhana.
·
Mendokumentasikan jenis-jenis karang
dengan menggunakan kamera bawah laut ( under water)
·
Melakukan identifikasi karang serta
jenis-jenis organism yang berasosiasi pada karang.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Adapun hasil data/sampelyang kami dapatkan setelah
melakukan praktikum ekologi laut tropis diperairan pantai rendani adalah
sebagai berikut :
·
Suhu =31,4
®c
·
DO =
6,08 ppm
·
Salinitas = 35 ppm
·
Ph =7,70
·
Posisi =N
34*00’000’’
E
068*54’25,5’’
·
Beberapa
Spesies Terumbu Karang di rendani dan Klasifikasinya
1. Acropora cervicornis
Kingdom :
Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
:
Anthozoa
Ordo
:
Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus
:
Acropora
Spesies
: Acropora
cervicornis Acropora cervicornis
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni
dapat terhampar sampai beberapa meter, Koloni arborescens, tersusun dari cabang-cabang yang silindris. Koralit
berbentuk pipa. Aksial koralit dapat dibedakan
Warna : Coklat muda.
Kemiripan : A. prolifera, A. formosa.
Distribusi : Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep.
Cayman..
Habitat
: Lereng karang bagian tengah dan atas,
juga perairan lagun yang jernih.
2. Acropora acuminata
Kingdom
:
Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
:
Acroporidae
Genus
: Acropora
Spesies
: Acropora acuminate Acropora acuminata
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri
: Koloni bercabang.
Ujung cabangnya lancip. Koralit mempunyai 2
ukuran.
Warna
: Biru muda
atau coklat.
Kemiripan
: A. hoeksemai, A abrotanoides.
Distribusi
: Perairan Indonesia, Solomon,
Australia, Papua New Guinea dan Philipina.
Habitat
: Pada bagian atas atau bawah lereng karang yang jernih atau pun keruh.
3. Acropora micropthalma
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: Acroporidae
Genus
:
Acropora
Spesies
: Acropora
micropthalma Acropora
micropthalma
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama.
Warna : Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem.
Kemiripan : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita.
Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.
Ciri-ciri : Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama.
Warna : Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem.
Kemiripan : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita.
Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.
Habitat
: Reef
slope bagian atas, perairan keruh dan lagun berpasir.
4. Acropora millepora
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: Acroporidae
Genus
: Acropora
Spesies
: montipora
capricornis montipora
capricornis
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 6-12 meter.
Ciri-ciri
: Koloni
berupa korimbosa berbentuk bantalan dengan cabang pendek yang seragam. Aksial
koralit terpisah. Radial koralit tersusun rapat.
Warna
: Umumnya
berwarna putih dan sedikit coklat.
Distribusi
: Tersebar dari Perairan
Indonesia, Philipina dan Australia.
Habitat
: Karang
ini umumnya banyak hidup di perairan yang jernih.
5. porites mayeri
Kingdom : Animalia
Phylum : Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family : Poritidae
Genus
: Acropora
Spesies
: Acropora palmate porites
mayeri
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 5-16 meter.
Ciri-ciri : Koloni berbentuk perubahan massive,
en-crusting, bercabang dan lembaran,
koralit kecil cereoid.
Warna
: Umumnya berwarna kuning.
Distribusi
: Tersebar di Perairan Indonesia, Karibia, dan Bahama.
Habitat
: Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.
6. Acropora hyacinthus
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: Acroporidae
Genus
: Acropora
Spesies
: Acropora hyacinthus Acropora
hyacinthus
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 15-35 meter.
Ciri-ciri : Koloni berbentuk datar tipis dan struktur halus di permukaan.
Warna : Coklat, hijau, merah muda.
Distribusi : Perairan Indonesia, Indo-Pasifik.
Habitat : Umumnya di lereng karang.
Ciri-ciri : Koloni berbentuk datar tipis dan struktur halus di permukaan.
Warna : Coklat, hijau, merah muda.
Distribusi : Perairan Indonesia, Indo-Pasifik.
Habitat : Umumnya di lereng karang.
7. Acropora donei
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: Acroporidae
Genus
: Acropora
Spesies
: Acropora donei
Acropora donei
Acropora donei
Kedalaman
: Karang
ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna : kuning.
Distribusi : Indo-Pasifik barat.
Habitat : Perairan tenang, atas dan bawah lereng karang.
Ciri-ciri : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna : kuning.
Distribusi : Indo-Pasifik barat.
Habitat : Perairan tenang, atas dan bawah lereng karang.
8. Acropora brueggemanni
Kingdom : Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family : acroporidae
Genus
: acropora
Spesies
: Acropora brueggemanni Acropora brueggemanni
Kedalaman
:
Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 7-14 meter.
Ciri-ciri : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna : putih krim.
Distribusi : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat : Perairan yang jernih dan dekat lereng.
Ciri-ciri : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna : putih krim.
Distribusi : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat : Perairan yang jernih dan dekat lereng.
9. diploastrea heliopora
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
:Faviidae
Genus
: Diploastrea
Spesies
: diploastrea heliopora diploastrea
heliopora
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 5-14 meter.
Ciri-ciri
: koloni
massive dengan ukuran yang besar dan membulat, koralit berbentuk plocoid dengan
tepi membulat dan berbentuk kubah kecil, septa menebal didekat din-ding.
Koralit terbentuk secara ekstra tentakuler, septokosta nyata dan bergerigi.
Warna
: mas.
Distribusi : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat : Perairan yang jernih dan dan perairannya tenang.
Distribusi : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat : Perairan yang jernih dan dan perairannya tenang.
10. herpolitha weberi
·
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: acroporidae
Genus
: fungiidae
Spesies
: herpolitha weberi herpolitha weberi
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 3-7 meter.
Ciri-ciri
: mempunyai
koloni, berbentuk memanjang dengan alur memanjang dari ujung satu ke ujung
lainnya., pada alur memanjang terdapat beberapa mulur sebagai pusat, septa
tersusun secara kasar dari pusat menuju tepi secara seragam, mulut kedua
terdapat tersebat sejajar dengan alur memanjang.
Warna
: coklat.
Distribusi
: Perairan Indo-pasifik,
Karibia.
Habitat
: Perairan
jernih.
11.
galaxea astreata
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: oculinidae
Genus
: galaxea
Spesies
: galaxea astreata galaxea
astreata
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 7-14 meter.
Ciri-ciri
: koloni
submasive, membentuk pilar atau encrusting. Koralit silindris dengan dinding
tipis dan septakosta terlihat merupakan lajur yang jelas. Kolumela kecil atau
tidak ada, septa pertama besar dan menonjol keluar serta tajam.
Warna
: putih.
Distribusi
: Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat
: Perairan
yang jernih dan dekat lereng.
12. galaxea
fascicular is
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family
: oculinidae
Genus
: galaxea
Spesies
: galaxea fascicular is galaxea fascicular
is
Kedalaman
: Karang ini banyak dijumpai hidup pada
kedalaman 7-20 meter.
Ciri-ciri
: koloni
submasive, membentuk pilar atau encrusting. Koralit silindris dengan dinding
tipis dan septakosta terlihat merupakan lajur yang jelas. Kolumela kecil atau
tidak ada, septa pertama besar dan menonjol keluar serta tajam.
Warna
: coklat keputihan.
Distribusi
: Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat
: Perairan
yang jernih.
13.
Acropora
elegantula
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora elegantula Acropora elegantula
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni korimbosa seperti semak. Cabang horisontal tipis dan menyebar. Aksial koralitnya jelas.
Warna : Abu-abu dengan warna ujungnya muda.
Kemiripan : A. aculeus, dan A. elseyi.
Distribusi : Perairan Indonesia, Srilanka.
Habitat : Fringing reefs yang dangkal.
Genus : Acropora
Spesies : Acropora elegantula Acropora elegantula
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni korimbosa seperti semak. Cabang horisontal tipis dan menyebar. Aksial koralitnya jelas.
Warna : Abu-abu dengan warna ujungnya muda.
Kemiripan : A. aculeus, dan A. elseyi.
Distribusi : Perairan Indonesia, Srilanka.
Habitat : Fringing reefs yang dangkal.
14. Acropora rosaria
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Anthozoa
Ordo
: Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora rosaria
Acropora
rosaria
Kedalaman : Karang ini banyak
dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : koloni seperti semak,
cabang utama mempunyai cabang sekunder, aksial koralit besar dan berbentuk
kubah tetapi tidak panjang. Radial koralit seperti kantung dan semua koralit
mempunyai dinding tebal.
Warna : Umumnya berwarna krem,
coklat, biru dan merah muda.
Kemiripan : Sepintas karang ini
mirip dengan A. loripes.
Distribusi : Tersebar dari Perairan
Indonesia, Philipina, Papua New Guinea dan Australia.
Habitat : Karang ini umumnya banyak
hidup di perairan dangkal.
·
Organisme
yang berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang di rendani
Duri Babi
Bintang Laut
4.2
Pembahasan
Adapun pembahasan yang dapat kami sampaikan mengenai
praktek ekologi perairan yaitu Terdapat berbagai jenis terumbu karang yang ada
diperairan pantai rendani, dengan banyaknya jenis-jenis serta keanekaragaman
jumblah karang maka banyak pula organism yang bersimbiosis dengan ekosistem
terumbu karang, selain banyak organism-organisme yang bersimbiosis, banyak pula
ancama yang didapatka ekosistem terumbu karang di perairan pantai rendani,
yaitusalah satu contohnya adalah penagkapan oleh nelayan yang ada disekitar
daerah pengamatan yang merusak karang dengan cara menghancurkan karang untuk
mendapatkan ikan.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Adapunkesimpulan yang dapat ditarik setelah
melakukan praktek lapangan yaitu pada daerah perairan pantai rendani memiliki
berbagai macam jenis terumbu karang serta memiliki berbagai macam organism yang
bersimbiosis dengan ekosistem terumbu karang yang ada pada perairan pantai
rendani.
5.
2 saran
Adapun saran yang dapat
diberikan oleh penulis kepada para pembaca yaitu perlu diadakannya kegiatan
praktikum ekologii laut tropis mengenai ekosistem terumbu karang serta organism
yang bersimbiosis yang perlu dilakukan di tempat yang berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Hutomo,M.1977. Teluk
Jakarta: Sumberdaya, sifat-sifat oseanologis serta permasalahannya. Lembaga
Oseanologi Nasional-LIPI, Jakarta.
Munasik. 2002.
Reproduksi karang di Indonesia: suatu kajian. Prosiding Konferensi Nasional III
2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002. In
press.
Munasik and Azhari, A. 2002. Masa reproduksi dan struktur gonad karang Acropora aspera di Pulau Panjang, Jepara. Prosiding Konferensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002. In press.
Munasik and Azhari, A. 2002. Masa reproduksi dan struktur gonad karang Acropora aspera di Pulau Panjang, Jepara. Prosiding Konferensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002. In press.
Oliver, J.K.,
Babcock, R.C., Harrison, P.L. and Willis, B.L. (1988). Geographic extent of
mass coral spawning: Clues to ultimate causal factors. Proc. 6th Int. Coral
Reef Symp. Australia 2:803-810.
Richmond, R.B.
(1988). Competency and dispersal of planullae larvae of a spawning versus a
brooding coral. Proc. 6th Int. Coral Reef Symp. 2:827-831.
Anonim. 2007. Produktivitas Primer_Tinjauan
Pustaka.(pdf_file).
Campbell, N. A., J. B. Reece, L. G. Mitchell. 2002. Biologi
(terjemahan), Edisi kelima Jilid 3. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Dedi, S. 2009. Pertumbuhan, Produktivitas dan
Biomassa, Fungsi dan Peranan. Dari http://web.ipb.ac.id/Dedi_s
download tanggal 30 Juni 2009.
Mcnaughton, S.J., L. L. Wolf. 1998. Ekologi Umum
(terjemahan), Edisi kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wiharto, M. 2007. Produktivitas Vegetasi Hutan
Hujan Tropis. (pdf_file).