Selasa, 23 Februari 2016

Laporan Ekologi Laut Tropis



LAPORAN PRAKTEK
EKOLOGI LAUT TRAOPIS
“KARANG SERTA ORGANISME YANG BERASOSIASI”

OLEH

 IRMAN RUMENGAN
200830019
MSP


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTASPETERNAKAN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2010

KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha esa sebab Berkat serta Karunia yang telah diberikannya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan praktek lapangan mata kuliah ekologi laut tropis yang dilaksanakan di perairan pantai rendani, manokwari dengan baik. Segala ucapan terima kasih saya berikan kepada seluruh pihak yang telah membantu  saya sehingga dapat menyelesaikan laporan ini, seperti halnya dengan yang lainnya, saya memiliki banyak kesalahan yang perlu saya perbaiki, namun memerlukan waktu sehingga saya dapat memperbaiki kesalahan / kekuarangan itu, jadi jika ada salah kata, penggunaan kata / bahasa dalam laporan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya serta terima kasih.

Penulis













DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………….

i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………………………

ii
BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………………….

1
1.2  Maksud dan Tujuan………………………………………………………………………………………………………….

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Ekosistem Terumbu Karang……………………………………………………………………………………………….

3
2.2 Interaksi Ekosistem Terumbu Karang Dengan Ekosistem Sekitarnya………………………………….

4
BAB III
METODE PRAKTEK


3.1 waktu dan Tempat…………………………………………………………………………………………………………….

8
3.2 alat dan Bahan………………………………………………………………………………………………………………….

8
3.3 Prosedur kerja…………………………………………………………………………………………………………………..

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil………………………………………………………………………………………………………………………………….

10
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………………………………………………………

26
BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………………….

27
5.2 Saran…………………………………………………………………………………………………………………………………

27
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

            Konsep ekosistem merupakan suatu yang luas, karena di dalamnya terjadi hubungan timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen-komponen penyusunnya, yang membentuk hubungan fungsional dan tidak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah ekosistem terjadi transfer energi antara komponennya yang bersumber dari sinar matahari melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau berklorofil. Makhluk hidup lain yang tidak memiliki kemampuan berfotosintesis, menggunakan energi matahari ini dengan cara mengkonsumsi makhluk fotosintesis tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya sehingga terbentuk suatu rantai makanan (Nontji, 1987).
Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktiv dan paling tinggi keanekaragaman hayatinya. Produktivitas yang tinggi tersebut memungkinkan terumbu karang menjadi tempat pemijahan, pengasuhan, dan mencari makan dari kebanyakan ikan. Oleh karena itu, secara otomatis produksi ikan di daerah terumbu karang sangat tinggi.
Kerangka hewan karang berfunsi sebagai tempat berlindung atau tempat menempelnya biota laut lainnya. Sejumlah ikan pelagis bergantung pada terumbu karang padfa masa larvanya. Terumbu karang juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut. Selain itu terumbu karang juga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi. Dari sisi sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa negara yang berasal dari perikanan dan pariwisata.





Indonesia Memiliki areal Terumbu Karang yang luas, diperkirakan sekitar 14 % dari luasan terumbu karang di dunia atau ada juga yang memperkirakan seluas 51 % dari terumbu karang yang ada di Asia Tenggara. Ada beberapa penapsiran yang berbeda- beda mengenai luasan terumbu karang di Indonesia, berdasarkan criteria dan asumsi penapsiran masing-masing menurut kemampuan fungsi, ruang dan waktu perhitungannya. Misal Tomascik et al. (1997) menaksir secara kasar luasan terumbu karang yang ada di Indonesia sekitar 85.000 km2. Cesar (1996) menggunakan angka total luasan terumbu karang 75.000 km2 untuk penilaian ekonomi turumbu karang di Indonesia. Laurette et al. (2002) mengestimasi luasan terumbu karang Indonesia sekitar 50.875 km2 tidak termasuk terumbu karang yang berada di daerah perairan laut yang dalam dan daerah yang jauh terpencil. Hasil penelitian LIPI-LAPAN melaporkan total luasan terumbu karang Indonesia 20.731 km2 tidak termasuk yang berada di daerah perairan yang kedalamannya lebih 30 m dan paparan tebing terumbu yang sangat curam tidak terdeteksi oleh sensor satelit yang dipergunakan.
Ekosistem terumbu karang memiliki berbagai jenis biota-biota / organism yang berasosiasi pada ekosistem ini, dengan alas an inilah  perlu diadakannya penelitian serta pengamatan mengenai karang dan organism yang berasosiasi.
Perairan pantai rendani merupakan salah satu kawasan pantai yang memiliki berbagai jenis terumbu karang dii bagian daerah papua, khususnya di perairan manokwari. Denag informasi inilah kita dapat mengetahui alas an dilakukannya praktek ekologi laut tropis mengenai terumbu karang sertaorganisme yang berasosiasi di ekosistem tersebut.
1.2  Maksud dan Tujuan

            Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan praktek ekologi laut tropis mengenai karang yang ada di perairan pantai rendani yaitu sebagai berikut :
1.      Melihat keanekaragam jenis karang serta biota/ organism yang ada pada perairan pantai rendani.
2.      Mengenal lebih dalam lagi mengenai ekosistem terumbu karang
3.      Sebagai syarat pemenuhan nilai praktek lapangan mata kuliah ekologi laut tropis



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekosistem Terumbu Karang
            Wilayah ekosistem terumbu karang mencakup dataran terumbu (reef bed), lereng terumbu (fringing reef), goba (laguna yang terdapat didaerah terumbu karang), serta gosong karang (Tomascik et al., 1997) . Ekosistem terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan maksimumnya, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu yang hangat, gerakan gelombang yang besar, serta sirkulasi yang lancar dan terhindar dari proses sedimentasi. Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan paling tinggi keaneka ragaman hayatinya. Berdasarkan data yang dikumpulkan selama Ekspedisi Snelius II (1984), di perairan Indonesia terdapat sekitar 350 spesies karang keras yang termasuk ke dalam 75 genera. Kerangka hewan karang berfungsi sebagai tempat berlindung atau tempat menempelnya biota laut lainnya. Sejumlah ikan pelagis bergantung pada keberadan terumbu karang pada masa larvanya. Terumbu karang juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut. Selain itu, terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi. Dari sisi sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa negara yang berasal dari perikanan dan pariwisata(Tomascik et al., 1997) .
Karang memiliki tentakel yang mengelilingi mulut dan dalam tentakel tedapat sel penyengat (nematokis) yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya, dengan tentakel tersebut individu karang dinamakan polip karang. Warna tentakel karang keras secara umum tidak berwarna atau bening seperti ubur-ubur, namun ada pula beberapa coklat muda, polip karang keras umumnya hidup berkoloni. Dan mereka menyatukan rangka kapur satu dengan yang lainnya, sehingga dari luar mereka terlihat seperti batu kapur. Kelompok karang lainya yang terdapat di terumbu karang adalah kelompok karang lunak, kelompok anemon, dan kelompok kipas laut. Dengan adanya kelompok-kelompok karang maka terbentuklah suatu hamparan terumbu karang di mana di dalamnya tedapat beberapa tumbuhan dan berbagai hewan laut lainya (Admin, 2008).


Polip karang bersimbiosis dengan alga bersel tunggal (monuceluler), yang terdapat dalam jaringan endoderm karang. Alga ini termasuk dalam dinoflagellata marga symbiodinium yang mempumyai klorofil untuk proses potosintesis. Alga ini dapat disebut sebagai zooxantellae (Admin, 2008).
Zoxantellae mendapatkan keuntungan karena ia mendapat tempat tinggal yang aman di dalam tubuh polip karang keras. Sedangkan polip karang keras mendapatkan keuntungan karena mendapatkan makanan dari hasil potosintesis alga yaitu oksigen dan energi. Hasil metabolisme makanan dari karang diambil zoxantellae untuk proses potosintesis dengan bantuan sinar matahari, kemudian hasilnya dimanfaatkan polip karang. Dengan demikian keduanya saling ketergantungan dan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada salah satunya. Zoxantellae adalah salah satu penyusun karang yang paling penting. Tanpa peran zooxantella terumbu karang tidak akan terbentuk karena polip karang keras tidak akan dapat hidup tanpa zoxantellae (Admin, 2008).
Pembuatan jetty, pembukaan lahan yang menyebabkan peningkatan sedimentasi, penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan racun, pariwisata, dan transporatsi laut yang serampangan merupakan ancaman terbesar bagi kondisi terumbu karang Indonesia. Ancaman ini telah menunjukan gejala yang mengkhawatirkan sehingga kondisi terumbu karang yang masih baik hanya tinggal 7% saja(Admin, 2008).
2.2 Interaksi Ekosistem Terumbu Karang Dengan Ekosistem Sekitarnya

Terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove berinteraksi secara fisik melalui beberapa mekanisme, yaitu reduksi energi gelombang, reduksi sedimen, dan pengaturan pasokan air baik air laut maupun air tawar dari sungai.  Komunitas lamun dan mangrove sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur terumbu karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan gelombang.  Di zona reef front, terjadi produksi pecahan fragmen kapur akibat hempasan gelombang dan terpaan arus yang terus-menerus. Fragmen-fragmen kapur ini akan diproses oleh beberapa jenis ikan, bulu babi, dan sponge untuk menghasilkan  kerikil, pasir, dan lumpur.  Selanjutnya kerikil, pasir, dan lumpur akan diteruskan ke arah pantai oleh aksi gelombang dan arus yang telah dilemahkan, sehingga membentuk akumulasi sedimen yang menjadi substrat utama di goba serta diperlukan di ekosistem padang lamun dan hutan mangrove.
Padang lamun berperan ganda dalam mempengaruhi kedua komunitas di sekitarnya, yaitu sebagai:
 (1) pemerangkap dan penstabil sedimen, serta
(2) pemroduksi sedimen. Fungsi pertama sangat diperlukan oleh terumbu karang karena menghindari proses sedimentasi yang bisa menutup permukaan hewan karang dan mengahalangi proses fotosintesis zooxanthellae di dalamnya. Fungsi yang kedua dilakukan oleh alga berkapur, epifit, dan infauna, yang hasilnya diperlukan oleh komunitas lamun dan mangrove.
Hutan mangrove juga berperan serupa dalam hal pemerangkap dan penyaring sedimen dan bahan pencemar, sehingga sedimentasi dan pencemaran di perairan pesisir jauh berkurang.  Mangrove juga berperan dalam mengatur pasokan air tawar ke sistem perairan pesisir.
Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan.  Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.  









Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik.  Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi yang bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator, grazing, komensalisme dan mutualisme, beserta contohnya di ekosistem terumbu karang.
·         Padang lamun sering dijumpai berdampingan atau tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan, terdapat interkoneksi antarketiganya. Berikut bagan yang menggambarkan interaksinya :
·        
Gambar 1. Bentuk interaksi antara tiga ekosistem bahari ( terumbu karang, lamun dan mangrove) (hutomo dan Azkab,1987)



Ekosistem mangrove, terumbu karang, dan lamun mempunyai keterkaitan ekologis (hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi satwa, dan dampak kegitan manusia. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem tersebut terganggu, maka ekosistem yang lain juga ikut terganggu. Yang jelas interaksi yang harmonis antara ketiga ekosistem ini harus dipertahankan agar tercipta sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan.















BAB III
METODE PRAKTEK
3.1  waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktek ekologi laut tropis yaitu bertempat di perairan pantai rendani pada tanggal 4 Desember 2010, penentuan tempat pengamatan di bagi menjadi 3 tempat dan kelomppok dibagi menjadi 3 kelompok, ketiga tempat tersebut adalah bagian yang terdapat lamun, bagian tanjung dan bagian yang sepenuhnya adalah karang.

3.2  alat dan bahan
adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalh sebagai berikut :
a)      Alat
·         Masker dan snorkel                             = melihat dalam perairan
·         Pegaris besi                                         = alat pengukuran
·         Kamera                                                = sebagai Dokumentasi
·         Kamera bawah laut ( underwater)      = sebagai dokumentasi bawah laut
·         Alat tulis menulis                                = menulis data
·         Termometer                                         = mengukur suhu perairan
·         DO Meter                                            = mengukur Oksigen terlarut
·         GPS                                                     = Melihat posisi pengambilan data
·         Refracto meter                                                = Mengukur salinitas






b)     Bahan
Terumbu karang dan organisme ekosistem terumbu karang.

3.3  Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja pada praktek ekologi laut tropisini adalah sebagai berikut :
·         Menyiapkan alat yang akan digunakan dalam untuk melihat karang dan organisme  yang berasosiasi di terumbu karang serta menentukan tempat pengambilan data/ sampel.
·         melihat secara langsung biota-bioata yang berasosiasi pada ekosistem terumbu karang serta melakukan pengoleksian bebas oraganisme yang dapat di dapatkan/ diambil dengan menggunakan peralatan yang sederhana.
·         Mendokumentasikan jenis-jenis karang dengan menggunakan kamera bawah laut ( under water)
·         Melakukan identifikasi karang serta jenis-jenis organism yang berasosiasi pada karang.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil data/sampelyang kami dapatkan setelah melakukan praktikum ekologi laut tropis diperairan pantai rendani adalah sebagai berikut :
*      Parameter kualitas perairan
·         Suhu              =31,4 ®c
·         DO                = 6,08 ppm
·         Salinitas         = 35 ppm
·         Ph                  =7,70
·         Posisi             =N 34*00’000’’
                                                                      E 068*54’25,5’’











·         Beberapa Spesies Terumbu Karang di rendani dan Klasifikasinya
1. Acropora cervicornis
Kingdom                     : Animalia
Phylum                        : Cnidaria                           
Class                            : Anthozoa
Ordo                             : Scleractinia
Family                          : Acroporidae
Genus                           : Acropora
Spesies                         : Acropora cervicornis                 Acropora cervicornis
Kedalaman         : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri            : Koloni dapat terhampar sampai beberapa meter, Koloni arborescens, tersusun  dari cabang-cabang yang silindris. Koralit berbentuk pipa. Aksial koralit dapat dibedakan
Warna    : Coklat muda.
Kemiripan             : A. prolifera, A. formosa.
Distribusi               : Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman..
Habitat               : Lereng karang bagian tengah dan atas, juga perairan lagun yang jernih.














2. Acropora acuminata
Kingdom                     : Animalia
Phylum                        : Cnidaria
Class                            : Anthozoa
Ordo                            : Scleractinia
Family                         : Acroporidae
Genus                          : Acropora
Spesies                        : Acropora acuminate                Acropora acuminata
Kedalaman      : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri           : Koloni bercabang. Ujung cabangnya lancip. Koralit mempunyai 2  ukuran.
Warna             : Biru muda atau coklat.
Kemiripan       : A. hoeksemai, A abrotanoides.
Distribusi        : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea dan Philipina.
Habitat            : Pada bagian atas atau bawah lereng karang yang jernih atau pun keruh.















3. Acropora micropthalma
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family               : Acroporidae
Genus                : Acropora
Spesies              : Acropora micropthalma                        Acropora micropthalma
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama.
Warna                 : Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem.
Kemiripan        : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.
Habitat              : Reef slope bagian atas, perairan keruh dan lagun berpasir.
















4. Acropora millepora
Kingdom           : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                 : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : montipora capricornis                  montipora capricornis
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 6-12 meter.
Ciri-ciri             : Koloni berupa korimbosa berbentuk bantalan dengan cabang pendek yang seragam. Aksial koralit terpisah. Radial koralit tersusun rapat.
Warna                : Umumnya berwarna putih dan sedikit coklat.
Distribusi          : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina dan Australia.
Habitat               : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan yang jernih.

















5. porites mayeri
Kingdom           : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family               : Poritidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora palmate                                        porites mayeri
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 5-16 meter.
Ciri-ciri             : Koloni berbentuk perubahan massive, en-crusting, bercabang dan  lembaran, koralit kecil cereoid.
Warna                 : Umumnya berwarna kuning.
Distribusi          : Tersebar di Perairan Indonesia, Karibia, dan Bahama.
Habitat               : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.

















6. Acropora hyacinthus
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus                : Acropora
Spesies              : Acropora hyacinthus                           Acropora hyacinthus
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 15-35 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentuk datar tipis dan struktur halus di permukaan.
Warna                 : Coklat, hijau, merah muda.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Indo-Pasifik.
Habitat               : Umumnya di lereng karang.


















7. Acropora donei
Kingdom          : Animalia
Phylum            : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                 : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora donei                                             Acropora donei
Kedalaman         : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna                : kuning.
Distribusi           : Indo-Pasifik barat.
Habitat               : Perairan tenang, atas dan bawah lereng karang.


















8. Acropora brueggemanni
Kingdom            : Animalia
Phylum              : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family               : acroporidae
Genus                : acropora
Spesies              : Acropora brueggemanni                    Acropora brueggemanni
Kedalaman          : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 7-14 meter.
Ciri-ciri               : mempunyai axial koralit dan radial koralit.
Warna                 : putih krim.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat               : Perairan yang jernih dan dekat lereng.


















9. diploastrea heliopora
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              :Faviidae
Genus                : Diploastrea
Spesies              : diploastrea heliopora                          diploastrea heliopora
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 5-14 meter.
Ciri-ciri              : koloni massive dengan ukuran yang besar dan membulat, koralit berbentuk plocoid dengan tepi membulat dan berbentuk kubah kecil, septa menebal didekat din-ding. Koralit terbentuk secara ekstra tentakuler, septokosta nyata dan bergerigi.
Warna                 : mas.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat               : Perairan yang jernih dan dan perairannya tenang.















10. herpolitha weberi
·         Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : acroporidae
Genus                : fungiidae
Spesies              : herpolitha weberi                           herpolitha weberi
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-7 meter.
Ciri-ciri              : mempunyai koloni, berbentuk memanjang dengan alur memanjang dari ujung satu ke ujung lainnya., pada alur memanjang terdapat beberapa mulur sebagai pusat, septa tersusun secara kasar dari pusat menuju tepi secara seragam, mulut kedua terdapat tersebat sejajar dengan alur memanjang.
Warna                 : coklat.
Distribusi          : Perairan Indo-pasifik, Karibia.
Habitat               : Perairan jernih.















11.  galaxea astreata
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : oculinidae
Genus                : galaxea
Spesies              : galaxea astreata                                    galaxea astreata
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 7-14 meter.
Ciri-ciri              : koloni submasive, membentuk pilar atau encrusting. Koralit silindris dengan dinding tipis dan septakosta terlihat merupakan lajur yang jelas. Kolumela kecil atau tidak ada, septa pertama besar dan menonjol keluar serta tajam.
Warna                 : putih.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat               : Perairan yang jernih dan dekat lereng.
















12.  galaxea fascicular is
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : oculinidae
Genus                : galaxea
Spesies              : galaxea fascicular is                          galaxea fascicular is
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 7-20 meter.
Ciri-ciri              : koloni submasive, membentuk pilar atau encrusting. Koralit silindris dengan dinding tipis dan septakosta terlihat merupakan lajur yang jelas. Kolumela kecil atau tidak ada, septa pertama besar dan menonjol keluar serta tajam.
Warna                 : coklat keputihan.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat               : Perairan yang jernih.
















13. Acropora elegantula
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora elegantula                                                    Acropora elegantula
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni korimbosa seperti semak. Cabang horisontal tipis dan menyebar. Aksial koralitnya jelas.
Warna : Abu-abu dengan warna ujungnya muda.
Kemiripan : A. aculeus, dan A. elseyi.
Distribusi : Perairan Indonesia, Srilanka.
Habitat : Fringing reefs yang dangkal.











14. Acropora rosaria

Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora rosaria                                                Acropora rosaria
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : koloni seperti semak, cabang utama mempunyai cabang sekunder, aksial koralit besar dan berbentuk kubah tetapi tidak panjang. Radial koralit seperti kantung dan semua koralit mempunyai dinding tebal.
Warna : Umumnya berwarna krem, coklat, biru dan merah muda.
Kemiripan : Sepintas karang ini mirip dengan A. loripes.
Distribusi : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina, Papua New Guinea dan Australia.
Habitat : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.

















·         Organisme yang berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang di rendani



 




                         








 






                      Duri Babi                                                              Bintang Laut








 











                    
4.2 Pembahasan
            Adapun pembahasan yang dapat kami sampaikan mengenai praktek ekologi perairan yaitu Terdapat berbagai jenis terumbu karang yang ada diperairan pantai rendani, dengan banyaknya jenis-jenis serta keanekaragaman jumblah karang maka banyak pula organism yang bersimbiosis dengan ekosistem terumbu karang, selain banyak organism-organisme yang bersimbiosis, banyak pula ancama yang didapatka ekosistem terumbu karang di perairan pantai rendani, yaitusalah satu contohnya adalah penagkapan oleh nelayan yang ada disekitar daerah pengamatan yang merusak karang dengan cara menghancurkan karang untuk mendapatkan ikan.















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
                      Adapunkesimpulan yang dapat ditarik setelah melakukan praktek lapangan yaitu pada daerah perairan pantai rendani memiliki berbagai macam jenis terumbu karang serta memiliki berbagai macam organism yang bersimbiosis dengan ekosistem terumbu karang yang ada pada perairan pantai rendani.
5. 2 saran
                     Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis kepada para pembaca yaitu perlu diadakannya kegiatan praktikum ekologii laut tropis mengenai ekosistem terumbu karang serta organism yang bersimbiosis yang perlu dilakukan di tempat yang berbeda.













DAFTAR PUSTAKA
Hutomo,M.1977. Teluk Jakarta: Sumberdaya, sifat-sifat oseanologis serta permasalahannya. Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI, Jakarta.
Munasik. 2002. Reproduksi karang di Indonesia: suatu kajian. Prosiding Konferensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002. In press.
Munasik and Azhari, A. 2002. Masa reproduksi dan struktur gonad karang Acropora aspera di Pulau Panjang, Jepara. Prosiding Konferensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 21-24 Mei 2002. In press.
Oliver, J.K., Babcock, R.C., Harrison, P.L. and Willis, B.L. (1988). Geographic extent of mass coral spawning: Clues to ultimate causal factors. Proc. 6th Int. Coral Reef Symp. Australia 2:803-810.
Richmond, R.B. (1988). Competency and dispersal of planullae larvae of a spawning versus a brooding coral. Proc. 6th Int. Coral Reef Symp. 2:827-831.
Anonim. 2007. Produktivitas Primer_Tinjauan Pustaka.(pdf_file).
Campbell, N. A., J. B. Reece, L. G. Mitchell. 2002. Biologi (terjemahan), Edisi kelima Jilid 3. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Dedi, S. 2009. Pertumbuhan, Produktivitas dan Biomassa, Fungsi dan Peranan. Dari http://web.ipb.ac.id/Dedi_s  download tanggal 30 Juni 2009.
Mcnaughton, S.J., L. L. Wolf. 1998. Ekologi Umum (terjemahan), Edisi kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wiharto, M. 2007. Produktivitas Vegetasi Hutan Hujan Tropis. (pdf_file).









Tidak ada komentar:

Posting Komentar