INTERAKSI ORGANISME LAUT DALAM DENGAN PERAIRAN ATAS
Oleh :
Nama : Irman Rumengan
Nim : 200830019
P. Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
MANOKWARI
2010
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh karena
berkat serta karunia yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas makalah tentang hubungan atau interaksi organisme laut dalam
dengan perairan atas.banyak sekali kendala dalam menyelesaikan tugas
makalah ini mulai dari pencarian materi yang susah sampai kepada hal-hal
pembagian waktu penyelesaian makalah ini.
Atas
semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini saya
ucapkan banyak terima kasih, sebab tanpa bantuan dari saudara-saudari
saya akan sulit untuk menyelesaikan makalah ini
Tak
ada yang sempurna di dunia ini, namun dari tidak kesempurnaan itu kita
belajar untuk lebih menyempurnakan apa yang tida sempurna, begitu pula
dengan makalah ini perlu mendapatkan saran, masukan, kritik yang
sifatnya membangung agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Atas
bantuaan dan kerja samanya saya selaku penulis mengucapkan terima kasih.
Penulis.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sepanjang
sejarah, ternyata manusia banyak menggunakan lautan. Lautan merupakan
habitat yang paling extensif untuk hidupnya organisme. Hal ini tidak
mengherankan, karena permukaan bumi kita sebagian besar ( ± 71 % )
ditutupi oleh lautan. Beberapa negara akhir-akhir ini memandang bahwa
lautan menjadi suatu tempat yang memberi harapan bagi expansi manusia
secara besar-besaran. Manusia telah menyadari, dengan tekanan explosi
penduduk disatu pihak sedang terbatasnya luas daratan dilain pihak, maka
memaksa manusia untuk mengetahui dan mempelajari rahasia-rahasia laut
beserta lingkungannya.
Untuk
mempelajari organisme di laut, tidak bisa diabaikan akan pengetahuan
mengenai lingkungannya. Dengan mengetahui kondisi lingkungan perairan,
setidak-tidaknya kita dapat mengetahui penyebaran dan sifat hidup dari
suatu organisme.
1.2 Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan pembuatan makalah tentang hubungan organisme laut dalam dan perairan atas adalh sebagai berikut :
· Mengetahui hubungan atau interaksi antara organisme yang ada di dalam laut dalam dengan permukaan perairan ( laut bagian atas)
· Mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi aktivitas organisme laut dalam
· Mengenal lebih mendalam tentang laut serta organisme yang ada didalamnya
· Menjalnkan tugas yang diberikan oleh dosen pengajar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Laut Dalam
Laut dalam adalah lapisan terbawah dari lautan, berada dibawah lapisan thermocline pada kedalaman lebih dari 1828 m. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk ke area ini, dan sebagian besar organisme bergantung pada material organik yang jatuh dari zona fotik.
Karena alasan inilah para saintis mengira bahwa kehidupan di tempat ini
akan sangat sedikit, namun dengan adanya peralatan yang dapat menyelam
ke kedalaman, ditemukan bahwa ditemukan cukup banyak kehidupan di arena
ini.
Di tahun 1960, Bathyscaphe Trieste menuju ke dasar dari Palung Mariana dekat Guam, pada kedalaman 35.798 kaki (10.911 m), titik terdalam di bumi. Jika Gunung Everest ditenggelamkan, maka puncaknya akan berada lebih dari satu mil dari permukaan. Pada kedalaman ini, ikan kecil mirip flounder terlihat.
Kapal selam penelitian Jepang, Kaiko, adalah satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang di tahun 2003.
Kapal selam penelitian Jepang, Kaiko, adalah satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang di tahun 2003.
Hingga tahun 1970, hanya sedikit yang diketahui tentang kemungkinan adanya kehidupan pada laut dalam. Namun penemuan koloni udang dan organisme lainnya di sekitar hydrothermal vents mengubah pandangan itu. Organisme-organisme tersebut hidup dalam keadaan anaerobik dan tanpa cahaya pada keadaan kadar garam yang tinggi dan temperatur 149 oC. Mereka menggantungkan hidup mereka pada hidrogen sulfida, yang sangat beracun pada kehidupan di daratan. Penemuan revolusioner tentang kehidupan tanpa cahaya dan oksigen ini meningkatkan kemungkinan akan adanya kehidupan di tempat lain di alam semesta ini.
Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 permukaan bumi ( +
70 % ), karena luasnya dan potensinya sangat besar, ekosistem laut
menjadi perhatian orang banyak, khususnya yang berkaitan dengan REVOLUSI
BIRU.
Ciri-ciri:
|
a.
|
Memiliki
kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Cl(55%), namun kadar
garam di laut bervariasi, ada yang tinggi (seperti di daerah tropika)
dan ada yang rendah (di laut beriklim dingin).
|
|
b.
|
Ekosistem air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
|
Sebagian
besar permukaan bumi terdiri dari lautan. Secara presentase, 71% dari
permukaan bumi merupakan wilayah laut dan samudera (lautan). Ada 4
Samudera di permuakaan bumi yaitu samudera pasifik, samudera atlantik,
samudera hindia dan samudera arktik.
2.2 Pembagian Daerah Laut
- Daerah Litoral / Daerah Pasang Surut:
Daerah litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut. - Daerah Neritik:
Daerah neritik merupakan daerah laut dangkal, daerah ini masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton, neston dan bentos. - Daerah Batial atau Daerah Remang-remang:
Kedalamannya antara 200 - 2000 m, sudah tidak ada produsen. Hewannya berupa nekton. - Daerah Abisal:
Daerah abisal adalah daerah laut yang kedalamannya lebih dari 2000 m. Daerah ini gelap sepanjang masa, tidak terdapat produsen.
· Berdasarkan intensitas cahayanya, ekosistem laut dibedakan menjadi 3 bagian:
|
a.
|
Daerah fotik: daerah laut yang masIh dapat ditembus cahaya matahari, kedalaman maksimum 200 m.
|
|
b.
|
Daerah twilight: daerah remang-remang, tidak efektif untuk kegiatan fotosintesis, kedalaman antara 200 - 2000 m.
|
|
c.
|
Daerah afotik: daerah yang tidak tembus cahaya matahari. Jadi gelap sepanjang masa.
|
· Permukaan
dasar laut yang tidak rata, berakibat kedalaman laut berbeda-beda.
Kedalaman laut dapat diukur dengan dua cara yaitu, cara batu duga dan
gema duga.
- Batu Duga
Cara batu duga merupakan cara paling sederhana untuk mengukur kedalaman laut. Dengan cara :
- Bola besi yang berat digantung pada pipa, dan pipaseperti sumbu bola besi. Keseluruhan di sebut batu duga.
- Batu
duga diikat dengan kawat kemudian diturunkan kedasar laut, setelah pipa
tertancap kedasar laut, maka bola besi dilepas. Kemudian pipa yang
sudah terisi materi dasar laut diangkat kembali ke atas.
- Gema Duga
Cara
ini menggunakan suara dan hydrofon sebagai alat ukur. Dari buritan
kapal dipancarkan suatu gelombang suara, setelah sampai di dasar laut,
suara tersebut akan dipantulkan kembali dan ditangkap oleh alat hydrofon
di atas kapal. Hydrofon akan mencatat jangka waktu jejak suara
dipancarkan hingga pantulannya diterima. Dengan menggunakan patokan
bahwa kecepatan suara di dalam air adalah 1500m/s.
2.3 Kehidupan Di Laut
Area di bawah zona epipelagic dibagi menjadi beberapa zona, dimulai dari mesopelagic
yang berada 200 hingga 1000 m di bawah permukaan laut, di mana cahaya
masih dapat masuk untuk membentuk kehidupan. Di bawah lapisan ini,
terdapat aphotic bathypelagic, abyssopelagic, dan hadopelagic. Makanan yang ada terdiri dari kejatuhannya materi organik dari lapisan atas lautan, yang dikenal dengan nama salju lautan.
Daripada memanfaatkan udara untuk gaya apung, banyak spesies memiliki lapisan daging seperti ubur-ubur yang terdiri dari glukosaminoglikan yang memiliki densitas yang sangat rendah. Dan juga telah diketahui bahwa cumi-cumi laut dalam mengkombinasikan jaringan gelatin dengan ruang pengapungan dalam tubuh mereka untuk diisi oleh sampah sisa metabolisme seperti amonium klorida, yang berdensitas lebih rendah dari pada air.
Ikan
di kedalaman laut menengah memiliki adaptasi spesial untuk kondisi
tersebut. Mereka berukuran kecil, metabolisme yang rendah, dan lebih
memilih untuk menunggu makanan datang daripada menghabiskan tenaga untuk
mencarinya. Mereka memiliki tubuh yang lemah, struktur otot dan tulang
yang berair. Karena rendahnya keberadaan cahaya, mencari rekan untuk
berkembang biak adalah hal yang cukup sulit sehingga banyak organisme
yang hermafrodit.
Karena cahaya sangat langka, ikan-ikan pada umumnya memiliki mata tubuler yang lebih besar dari ukuran normal dan hanya diisi oleh sel tabung.
Sesungguhnya, organisme laut dalam sangat bergantung pada jatuhnya
material organik hidup dan tak hidup. Hanya 1 hingga 3% material organik
yang diproduksi di lautan bagian atas yang jatuh ke dasar laut dalam
bentuk salju lautan. Keruntuhan makanan terbesar, misalnya bangkai hewan
(penyu, paus, dan lain-lain) dan penelitian menunjukkan bahwa hal
ini terjadi cukup sering. Sangat banyak sekali pemakan bangkai di laut
dalam, meski banyak juga yang hanya menyeleksi partikel organik yang
berjatuhan.
Di
laut dalam juga terdapat makhluk hidup yang tidak bergantung pada
material organik terlarut sebagai makanan mereka. Jenis makhluk hidup
tersebut hanya ditemukan di sekitar hydrothermal vent. Sebagai contoh
adalah hubungan simbiotik antara cacing tabung Riftia dengan bakteri kemosintetik. Kemosintesis
yang mendukung kehidupan komunitas kompleks tersebut dapat ditemukan di
sekitar hydrothermal vent. Komunitas ini adalah satu-satunya komunitas
di planet ini yang tidak bergantung pada keberadaan cahaya matahari.
· Gerakan Air Laut
Ada
tiga hal yang akan kita bahas sehubungan dengan gerakan air laut ini
yaitu arus laut, gelombang laut dan pasang surut air laut.
a. Arus Laut, Arus laut atau sea current adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain
baik secara vertikal maupun secara horizontal Menurut letaknya arus
dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang ber gerak di bawah permukaan laut. Menurutsuhu
nya kita meng enal adanya arus panas dan arus dingin. Arus panas adalah
arus yang bila suhu nya lebih panas dari daerah yang dilalui. Sedang
kan arus dingin adalah arus yang suhunya lebih dingin dari daerah yang
dilaluinya.
b. Gelombang Laut, Gelombang
laut atau ombak merupakan gerakan air laut yang paling umum dan mudah
kita amati. Helmholts menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang
laut sebagai berikut: Jika ada dua massa benda yang berbeda kerapatannya
(densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka pada bidang geraknya akan terbentuk gelombang. Gelombang terjadi karena beberapa sebab, antara lain:
ü Karena
angin. Gelombang terjadi karena adanya gesekan angin di permukaan, oleh
karena itu arah gelombang sesuai dengan arah angin.
ü Karena
menabrak pantai. Gelombang yang sampai ke pantai akan terjadi hempasan
dan pecah. Air yang pecah itu akan terjadi arus balik dan membentuk
gelombang, oleh karena itu arahnya akan berlawanan dengan arah datangnya
gelombang.
ü Karena
gempa bumi. Gelombang laut terjadi karena adanya gempa di dasar laut.
Gempa terjadi karena adanya gunung laut yang meletus atau adanya
getaran/ pergeseran kulit bumi di dasar laut. Gelombang yang ditimbulkan
biasanya besar dan sering disebut dengan gelombang “tsunami”. Contohnya
ketika gunung Krakatau meletus pada tahun 1883, menyebabkan terjadinya
gelombang tsunami yang banyak menimbulkan banyak kerugian.
c. Pasang Surut (Ocean Tide)
Pasang
naik dan pasang surut merupakan bentuk gerakan air laut yang terjadi
karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Hal ini
didasarkan pada hukum Newton yang berbunyi: Dua benda akan terjadi
saling tarik menarik dengan kekuatan yang berbanding terbalik dengan
pangkat dua jaraknya. Berdasarkan hukum tersebut berarti makin
besar/jauh jaraknya makin kecil daya tariknya. Karena jarak dari bumi ke
matahari lebih jauh dari pada ke jarak bulan, maka pasang surut
permukaan air laut lebih banyak dipengaruhi oleh bulan.
2.4 Komunitas di Dalam Laut
Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
|
a.
|
Produsen
terdiri atas fitoplankton dan ganggang laut lainnya. |
|
b.
|
Konsumen
terdiri atas berbagai jenis hewan. Hampir semua filum hewan ditemukan di dalam ekosistem laut. |
|
c.
|
Zooplaokton
terdiri atas bakteri dan hewan-hewan pemakan bangkai atau sampah. |
Pada
ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan
daerah gelap sepanjang masa. Di daerah tersebut tidak berlangsung
kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang
ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam
merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap.
2.5 Adaptasi biota laut terhadap lingkungan yang berkadar garam tinggi:
Pada
hewan dan tumbuhan tingkat rendah tekanan osmosisnya kurang lebih sama
dengan tekanan osmosis air laut sehingga tidak terlalu mengalami
kesulitan untuk beradaptasi. Tetapi bagaimanakah dengan hewan tingat
tinggi, seperti ikan yang mempunyai tekanan osmosis jauh lebih rendah
daripada tekanan osmosis air laut. Cara ikan beradaptasi dengan kondisi
seperti itu adalah:
- hanyak minum
- air masuk ke jaringan secara osmosis melalui usus
- sedikit mengeluarkan urine
- pengeluaran air terjadi secara osmosis
- garam-garam dikeluarkan secara aktif melalui insang
- air masuk ke jaringan secara osmosis melalui usus
- sedikit mengeluarkan urine
- pengeluaran air terjadi secara osmosis
- garam-garam dikeluarkan secara aktif melalui insang
2.6 KARAKTERISTIK AIR LAUT
· Suhu
Laut
tropik memiliki massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya
pemanasan yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan
tersebut mengakibatkan terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan
yang disebabkan oleh adanya gradien suhu. Berdasarkan gradien suhu
secara vertikal di dalam kolom perairan, Wyrtki (1961) membagi perairan
menjadi 3 (tiga) lapisan, yaitu: a) lapisan homogen pada permukaan
perairan atau disebut juga lapisan permukaan tercampur; b) lapisan
diskontinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin; c) lapisan di bawah
termoklin dengan kondisi yang hampir homogen, dimana suhu berkurang
secara perlahan-lahan ke arah dasar perairan.
Menurut
Lukas and Lindstrom (1991), kedalaman setiap lapisan di dalam kolom
perairan dapat diketahui dengan melihat perubahan gradien suhu dari
permukaan sampai lapisan dalam. Lapisan permukaan tercampur merupakan
lapisan dengan gradien suhu tidak lebih dari 0,03 oC/m
(Wyrtki, 1961), sedangkan kedalaman lapisan termoklin dalam suatu
perairan didefinisikan sebagai suatu kedalaman atau posisi dimana
gradien suhu lebih dari 0,1 oC/m (Ross, 1970).
Suhu
permukaan laut tergantung pada beberapa faktor, seperti presipitasi,
evaporasi, kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan
faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan. Presipitasi
terjadi di laut melalui curah hujan yang dapat menurunkan suhu permukaan
laut, sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan akibat
adanya aliran bahang dari udara ke lapisan permukaan perairan. Menurut
McPhaden and Hayes (1991), evaporasi dapat meningkatkan suhu kira-kira
sebesar 0,1 oC pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 m dan hanya kira-kira 0,12 oC
pada kedalaman 10 – 75 m. Disamping itu Lukas and Lindstrom (1991)
mengatakan bahwa perubahan suhu permukaan laut sangat tergantung pada
termodinamika di lapisan permukaan tercampur. Daya gerak berupa adveksi
vertikal, turbulensi, aliran buoyancy, dan entrainment
dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada lapisan tercampur serta
kandungan bahangnya. Menurut McPhaden and Hayes (1991), adveksi
vertikal dan entrainment dapat mengakibatkan perubahan terhadap
kandungan bahang dan suhu pada lapisan permukaan. Kedua faktor
tersebut bila dikombinasi dengan faktor angin yang bekerja pada suatu
periode tertentu dapat mengakibatkan terjadinya upwelling. Upwelling
menyebabkan suhu lapisan permukaan tercampur menjadi lebih rendah. Pada
umumnya pergerakan massa air disebabkan oleh angin. Angin yang
berhembus dengan kencang dapat mengakibatkan terjadinya percampuran
massa air pada lapisan atas yang mengakibatkan sebaran suhu menjadi
homogen.
· Salinitas
Sebaran
salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola
sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai. Perairan
dengan tingkat curah hujan tinggi dan dipengaruhi oleh aliran sungai
memiliki salinitas yang rendah sedangkan perairan yang memiliki
penguapan yang tinggi, salinitas perairannya tinggi. Selain itu pola
sirkulasi juga berperan dalam penyebaran salinitas di suatu perairan.
Secara
vertikal nilai salinitas air laut akan semakin besar dengan
bertambahnya kedalaman. Di perairan laut lepas, angin sangat menentukan
penyebaran salinitas secara vertikal. Pengadukan di dalam lapisan
permukaan memungkinkan salinitas menjadi homogen. Terjadinya upwelling
yang mengangkat massa air bersalinitas tinggi di lapisan dalam juga
mengakibatkan meningkatnya salinitas permukaan perairan.
Sistem
angin muson yang terjadi di wilayah Indonesia dapat berpengaruh
terhadap sebaran salinitas perairan, baik secara vertikal maupun secara
horisontal. Secara horisontal berhubungan dengan arus yang membawa massa
air, sedangkan sebaran secara vertikal umumnya disebabkan oleh tiupan
angin yang mengakibatkan terjadinya gerakan air secara vertikal.
Menurut Wyrtki (1961), sistem angin muson menyebabkan terjadinya musim
hujan dan panas yang akhirnya berdampak terhadap variasi tahunan
salinitas perairan. Perubahan musim tersebut selanjutnya mengakibatkan
terjadinya perubahan sirkulasi massa air yang bersalinitas tinggi
dengan massa air bersalinitas rendah. Interaksi antara sistem angin
muson dengan faktor-faktor yang lain, seperti run-off dari
sungai, hujan, evaporasi, dan sirkulasi massa air dapat mengakibatkan
distribusi salinitas menjadi sangat bervariasi. Pengaruh sistem angin
muson terhadap sebaran salinitas pada beberapa bagian dari perairan
Indonesia telah dikemukakan oleh Wyrtki (1961). Pada Musim Timur terjadi
penaikan massa air lapisan dalam (upwelling) yang bersalinitas
tinggi ke permukaan di Laut Banda bagian timur dan menpengaruhi sebaran
salinitas perairan. Selain itu juga di pengaruhi oleh arus yang membawa
massa air yang bersalinitas tinggi dari Lautan Pasifik yang masuk
melalui Laut Halmahera dan Selat Torres. Di Laut Flores, salinitas
perairan rendah pada Musim Barat sebagai akibat dari pengaruh masuknya
massa air Laut Jawa, sedangkan pada Musim Timur, tingginya salinitas
dari Laut Banda yang masuk ke Laut Flores mengakibatkan meningkatnya
salinitas Laut Flores. Laut Jawa memiliki massa air dengan salinitas
rendah yang diakibatkan oleh adanya run-off dari sungai-sungai besar di P. Sumatra, P. Kalimantan, dan P. Jawa.
· Densitas air laut (t)
Distribusi
densitas dalam perairan dapat dilihat melalui stratifikasi densitas
secara vertikal di dalam kolom perairan, dan perbedaan secara horisontal
yang disebabkan oleh arus. Distribusi densitas berhubungan dengan
karakter arus dan daya tenggelam suatu massa air yang berdensitas tinggi
pada lapisan permukaan ke kedalaman tertentu. Densitas air laut
tergantung pada suhu dan salinitas serta semua proses yang mengakibatkan
berubahnya suhu dan salinitas. Densitas permukaan laut berkurang
karena ada pemanasan, presipitasi, run off dari daratan serta meningkat jika terjadi evaporasi dan menurunnya suhu permukaan.
Sebaran
densitas secara vertikal ditentukan oleh proses percampuran dan
pengangkatan massa air. Penyebab utama dari proses tersebut adalah
tiupan angin yang kuat. Lukas and Lindstrom (1991), mengatakan bahwa
pada tingkat kepercayaan 95 % terlihat adanya hubungan yang positif
antara densitas dan suhu dengan kecepatan angin, dimana ada
kecenderungan meningkatnya kedalaman lapisan tercampur akibat tiupan
angin yang sangat kuat. Secara umum densitas meningkat dengan
meningkatnya salinitas, tekanan atau kedalaman, dan menurunnya suhu.
2.7 Faktor Utama Yang Mempengaruhi Produktivitas Primer Di Laut
· Cahaya
Cahaya
merupakan salah satu faktor yang menentukan distribusi klorofil-a di
laut. Di laut lepas, pada lapisan permukaan tercampur tersedia cukup
banyak cahaya matahari untuk proses fotosintesa. Sedangkan di lapisan
yang lebih dalam, cahaya matahari tersedia dalam jumlah yang sedikit
bahkan tidak ada sama sekali. Ini memungkinkan klorofil-a lebih banyak
terdapat pada bagian bawah lapisan permukaan tercampur atau pada bagian
atas dari permukaan lapisan termoklin jika dibandingkan dengan bagian
pertengahan atau bawah lapisan termoklin. Hal ini juga dikemukakan oleh
Matsuura et al. (1997) berdasarkan hasil pengamatan di timur
laut Lautan Hindia, dimana diperoleh bahwa sebaran konsentrasi
klorofil-a pada bagian atas lapisan permukaan tercampur sangat sedikit
dan mulai meningkat menuju bagian bawah dari lapisan permukaan tercampur
dan menurun secara drastis pada lapisan termoklin hingga tidak ada
klorofil-a lagi pada lapisan di bawah lapisan termoklin.
Fotosintesa
fitoplankton menggunakan klorofil-a, c, dan satu jenis pigmen tambahan
seperti protein-fucoxanthin dan peridinin, yang secara lengkap
menggunakan semua cahaya dalam spektrum tampak. Pada panjang gelombang
400 – 700 nm, cahaya yang diabsorbsi oleh pigmen fitoplankton dapat
dibagi dalam: cahaya dengan panjang gelombang lebih dari 600 nm,
terutama diabsorbsi oleh klorofil dan cahaya dengan panjang gelombang
kurang dari 600 nm, terutama diabsorbsi oleh pigmen-pigmen
pelengkap/tambahan (Levinton, 1982).
Dengan
adanya perbedaan kandungan pigmen pada setiap jenis plankton, maka
jumlah cahaya matahari yang diabsorbsi oleh setiap plankton akan berbeda
pula. Keadaan ini berpengaruh terhadap tingkat efisiensi fotosintesa.
Fujita (1970) dalam Parsons et al. (1984) mengklasifikasi
alga laut berdasarkan efisiensi fotosintesa oleh pigmen kedalam tipe
klorofil-a dan b untuk alga hijau dan euglenoid; tipe klorofil-a, c, dan
caratenoid untuk diatom, dinoflagelata, dan alga coklat; dan tipe
klorofil-a dan ficobilin untuk alga merah dan alga hijau biru.
· Nutrien
Nutrien
adalah semua unsur dan senjawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan-tumbuhan
dan berada dalam bentuk material organik (misalnya amonia, nitrat) dan
anorganik terlarut (asam amino). Elemen-elemen nutrien utama yang
dibutuhkan dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen, fosfor, oksigen,
silikon, magnesium, potassium, dan kalsium, sedangkan nutrien trace element dibutuhkan dalam konsentrasi sangat kecil, yakni besi, copper, dam vanadium (Levinton, 1982). Menurut Parsons et al.
(1984), alga membutuhkan elemen nutrien untuk pertumbuhan. Beberapa
elemen seperti C, H, O, N, Si, P, Mg, K, dan Ca dibutuhkan dalam jumlah
besar dan disebut makronutrien, sedangkan elemen-elemen lain dibutuhkan
dalam jumlah sangat sedikit dan biasanya disebut mikronutrien atau trace element.
Sebaran
klorofil-a di dalam kolom perairan sangat tergantung pada konsentrasi
nutrien. Konsentrasi nutrien di lapisan permukaan sangat sedikit dan
akan meningkat pada lapisan termoklin dan lapisan di bawahnya. Hal mana
juga dikemukakan oleh Brown et al. (1989), nutrien memiliki
konsentrasi rendah dan berubah-ubah pada permukaan laut dan
konsentrasinya akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman serta akan
mencapai konsentrsi maksimum pada kedalaman antara 500 – 1500 m.
· Suhu
Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk
mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu
dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa (Pmax), sedangkan
pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi
kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton (Tomascik
et al., 1997 b).
Secara
umum, laju fotosintesa fitoplankton meningkat dengan meningkatnya suhu
perairan, tetapi akan menurun secara drastis setelah mencapai suatu
titik suhu tertentu. Hal ini disebabkan karena setiap spesies
fitoplankton selalu berdaptasi terhadap suatu kisaran suhu tertentu.
2.8 Adaptasi organisme dilingkungan laut dalam
Salah
satu pembatas kehidupan organisme laut adalah kedalaman.kedalaman
berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti makanan,
cahaya, tekanan, suhu dan lain-lain. Semuanyya berpengaruh terhadap
kondisi ekologi laut dalam terutama terhadap kehidupan organisme.
Ekologi
laut dalam dapat diartikan sebagai pembahasan tentang hubungan makluk
hidup (faktor biotik) dengan lingkungan disekitarnya (faktor abiotik )
yang dibatasi oleh lingkungan laut dalam. Sedangkan yang dimaksud laut
dalam disini dibatasi pula untuk perairan di luar daerah Continental
shelf atau neritic region. Dengan perkataan lain yang termasuk laut
dalam adalah mulai dari daerah neritik sampai ke laut bebas (oceanic
region)
Organisme
laut dalam umumnya berwarna monokrom atau bahkan albino, karena pigmen
mereka tidak tersentuh sinar matahari. Sinar matahari tidak mampu
menembus lapisan laut sampai kedalaman 650 m. Dengan absennya sinar
matahari, maka daur ekologi tidak lagi berlaku dengan absennya produsen.
Hewan laut dalam hanya mengandalkan "remah-remah" dari lapisan di
atasnya yang jatuh ke dasar.
Karena
minimnya cahaya dan stok makanan, maka organisme laut dalam
mengembangkan evolusi mereka sebagai predator pasif. Mereka hanya
menunggu dengan diam dan lama untuk menangkap mangsa. Jumlah populasi
juga tidak banyak karena akan makin memperketat kompetisi memperoleh
makanan. Kondisi itu juga menyebabkan mereka mengembangkan kemampuan
hermafrodit untuk berkembang biak. Hermafrodit yaitu organisme yang
memiliki dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina.
Bentuk
adaptasi fisiologis lain adalah organisme laut dalam mempunyai
kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk
hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri
dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok
makanan yang didapat.
Secara
morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi
mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka
adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka
harus seoptimal mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam.
Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.
Bentuk
spesies non ikan seperti moluska dan sebangsanya akan adaptif untuk
memakan mikroorganisme yang ada. Mereka sulit bersaing dengan ikan yang
ganas. Untuk senjata mempertahankan diri, mereka biasanya mampu
berkamuflase dengan kondisi sekitar.Satu persamaan dari mereka adalah,
evolusi morfologis mengubah bentuk mereka menjadi kecil. Jarang ada
organisme yang berdimensi panjang lebih dari 25 cm.
Beberapa
organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai perilaku
yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan
memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba
gelap.
· Beberapa faktor pembatas kehidupan dilaut dalam adalah :
Konsentrasi
makanan yang larut dalam air laut relatif rendah dan keadaan seperti
ini merupakan faktor pembatas terhadap populasi organisme dilaut. Pada
laut dalam, kandungan phosphat dan nitrat merupakan faktor pembatas.
Karena kedua unsur hara tersebut diperlukan bagi proses photosynthesa.
Reaksi dalam proses photosynthesa oleh fitoplankton dapat dianggap
sebagai pabrik ppembuat makanan yang sering kali disebut business of
green plant. Umumnya distribusi vertikal makanan berkurang dengan
bertambahnya kedalaman laut.SUTOMO (1978) mengatakan bahwa transfer
energi dari tingkatan tropik yang satu ke yang lain dari permukaan
kedasar, dalam tingkatan tertentu ditunjukan oleh sifat sebaran
vertikal, kuantitas dan komposisi plankton pada berbagai kedalama.
Radiasi
matahari merupakan sumber cahaya yang utama dilaut, disamping berasal
dari organisme yang tergolong dalam bioluminiscence ( yang dapat
memproduksi cahaya dari salah satu organ tubuhnya) intensitas cahaya
yang berasal dari radiasi matahari semakin berkurang dengan makin
bertambahnya kedalaman, karena absorbsi oleh partikel-partikel air laut
dan suspensi material yang larut dalam air (yang berperan dalam
memantulkan cahaya yang masuk) .HUNTER dan RUSSEL (1970) mengatakan
bahwa cahaya yang masuk dalam air pada kedalaman 3,5 m mencapai 50 %
dari raidasi total yang tiba dipermukaan , 10 % pada kedalaman 8 m dan 1
% pada kedalaman 100 m. Sedangkan pada kedalaman lebih dari 200 m
cahaya sangat minim bahkan tidak ada sama sekali.
Mengenai
tekanan dilaut.SVERDRUP et al. (1964) mengemukakan bahwa setiap
bertambahnya kedalaman 10 m, tekanan naik 1 atm. Pada daerah zona
Abyssopelagic, menurut LAGLER et al.(1962) tekanan bisa mencapai
200-1000 atm. Namun bagi organisme dilaut hal ini bukan menjadi faktor
pembatas baginya, karena organisme tertentu dapat bermigrasi ataupun
melakukan adaptasi tekanan disekitarnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari makalah tentang hubungan atau interaksi organisme laut
dalam dengan perairan atas adalah sebagai berikut :
· Laut dalam adalah lapisan terbawah dari lautan, berada dibawah lapisan thermocline pada kedalaman lebih dari 1828 m. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk ke area ini, dan sebagian besar organisme bergantung pada material organik yang jatuh dari zona fotik.
Karena alasan inilah para saintis mengira bahwa kehidupan di tempat ini
akan sangat sedikit, namun dengan adanya peralatan yang dapat menyelam
ke kedalaman, ditemukan bahwa ditemukan cukup banyak kehidupan di arena
ini.
· Pembagian daerah laut
- Daerah Litoral / Daerah Pasang Surut:
Daerah litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. - Daerah Neritik:
Daerah neritik merupakan daerah laut dangkal, daerah ini masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m. - Daerah Batial atau Daerah Remang-remang:
Kedalamannya antara 200 - 2000 m - Daerah Abisal:
Daerah abisal adalah daerah laut yang kedalamannya lebih dari 2000 m.
· Pada
ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan
daerah gelap sepanjang masa. Di daerah tersebut tidak berlangsung
kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang
ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam
merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap.
· Beberapa
organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai perilaku
yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan
memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba
gelap.
· Bentuk
adaptasi fisiologis lain adalah organisme laut dalam mempunyai
kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk
hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri
dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok
makanan yang didapat
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk menyempurnakan makalah ini adalah:
· Sebelum mencari data, dalamilah materi biologi laut dengan lebih mendalam lagi
· Perlunya pengetahuan dan keingintahuan yang lebih tentang hubbungan organisme laut
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. available at http://ilmukelautan.com
Nybakken, James W.1992.Biologi Laut. Jakarta: Gramedia
Sudirman dan Achmar Mallawa.2002.Teknik Penangkapan Ikan. Jakarta : Rineka Cipta
Hutabarat S., dan Evans M.S, 1986. Pengantar Oceanografi. UI-Press. Jakarta.
Dahuri,
R.J., Rais, S.P, Ginting dan M,S. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Pradya Paramitha. Jakarta.
Nontji A., 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
________, 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta : 105 – 114.
Odum P.E., 1996. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pangerang,
U.K., 1998. Bahan Ajar Mata Kuliah konservasi Sumberdaya Perairan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo. Kendari.
Ramli M., Utama K. Pangerang, Dedy Oetama, 2006. Penuntun Praktikum Ekologi Laut Tropis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo. Kendari.
Desember 2008.
DAFTAR ISI
|
Kata pengantar.......................................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................
|
i
ii
|
|
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang........................................................................................
1.2 Maksud Dan Tujuan...............................................................................
|
1
1
|
|
Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Laut Dalam......................................................................................
2.2 Pembagian Daerah Laut....................................................................................
2.3 Kehidupan Di Laut............................................................................................
2.4 Komunitas Di Dalam Laut................................................................................
2.5 Adaptasi Biota Laut Terhadap Lingkungan Yang Berkadar Garam Tinggi.....
2.6 Karakteristik Air Laut ......................................................................................
2.7 Faktor Utama Yang Mempengaruhi Produktivitas Primer Di Laut .................
2.8 Adaptasi Organisme Dilingkungan Laut Dalam...............................................
| |
|
Bab III Penutup
3.1 kesimpulan..............................................................................................
3.2 Saran.......................................................................................................
| |
|
DAFTAR PUSTAKA
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar